Mengenal Influencer, Strategi Marketing Masa Kini

Foto Ilustrasi

Tahu kata influencer ‘kan? Bukan sebuah jabatan, gelar tak formal dengan banyak pengertian.

Influencer, fungsinya sangatlah berbeda dengan dahulu. Sudah jelas, perkembangan teknologi yang membuat fungsi influencer berbeda. Saat ini, influencer digunakan sebagai branding sebuah produk, konten kreatif, hingga tempat atau layanan tertentu. Sedangkan dahulu, influencer seperti Ir.Soekarno, Adolf Hitler dan Mahatma Ghandi memberi dampak dalam branding eksistensi bangsa, hak asasi manusia bahkan peristiwa perang.

Lebih jauh menelusuri kata influencer, awalnya diartikan influence. Menurut kamus Cambridge, influence adalah kekuatan untuk mempengaruhi seseorang dan atau sanggup melakukan hal tersebut. Jika definisi influencer sendiri adalah seseorang yang bisa mengambil ide, brand, konsep yang tidak ada dalam kesadaran mainstream lalu mengubahnya menjadi kesadaran mainstream.

Di Indonesia, kita tentunya mengenal banyak tokoh influencer yang familiar seperti Gita Savitri, Andori Andriani, hingga sekelas Atta Halilintar. Mereka (baca: Influencer) memiliki ciri atau gaya yang khas dan berbeda dalam berkiprah di dunia influencer.

Tak sembarangan, untuk dikatakan sebagai seorang influencer, memiliki syarat tertentu. Dosen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Malik Ahmad menjelaskan, pada saat ini seseorang bisa disebut influencer jika mempunyai banyak pengikut. Selain itu syarat lainnya harus diperkuat dengan citra yang baik. “Yang namanya influencer harus memiliki karakter yang unik,” ungkap Malik pada Senin (11/03).

Infografis Perbedaan Influencer kini dan dulu (Fahriza/ SM)

Pengguna Internet Meningkat, Efek Kecanduan Manusia pada Media Sosial

Memiliki banyak pengikut atau followers, Youtube dan Instagram tidak terpisahkan dari Internet. Merujuk riset We are social, total pengguna internet di dunia per tahun 2019 mencapai 4,39 milyar dari jumlah penduduk bumi 7,676 milyar, dengan peningkatan 366 juta (9%) dari tahun lalu. Tercatat, dalam satu detik 11 pengguna internet baru bergabung, dan jika dihitung per-hari bisa mencapai satu juta pengguna baru dalam sehari. Peningkatan ini jauh lebih tinggi dibanding penambahan papan iklan reklame ataupun penggunaan televisi.

Peningkatan penggunaan internet yang mencapai 366 juta (2018-2019) bahkan 4,35 kali lipat lebih banyak dari total kenaikan jumlah penduduk bumi yang mencapai 84 juta jiwa dalam satu tahun terakhir. Hal ini membuktikan bahwa internet telah menjadi peran penting dalam kehidupan masa kini.

Dijelaskan oleh Stephani Raihana Hamdan, peningkatan pengguna internet dipengaruhi efek kecanduan yang disebabkan oleh media sosial. Ia membenarkan, kaitannya dengan media sosial disebut adiksi atau kecanduan. Kecanduan pun menurutnya ada dua macam, yakni kecanduan karena zat dan kecanduan perilaku. “Substance Abuse itu karna zat, sedangkan Behavior Addict itu kecanduan karena perilaku,” ucap dosen pengampu Metode dan Teknik Psikologi Sosial Unisba tersebut.

Di sela-sela waktunya saat menunggu jemputan pulang, Stephani lebih detail menjelaskan secara faal atau neurologis mengenai kecanduan. Pasalnya, jika kebanjiran dopamine (zat yang berperan dalam membentuk motivasi) dan kecanduan ataupun zat lain, maka kemampuan prefrontal cortex bagian depan otak yang harusnya untuk berpikir rasional menjadi rusak. Alhasil, seseorang tidak bisa berpikir dengan jernih.

Mencerna Dampak dari Kecanduan Perilaku para Influencer

Lanjut Stephani menuturkan, seseorang menjadi mudah terpengaruh yang disebabkan dua faktor, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal dapat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan kepercayaan diri seseorang yang rapuh. Sedangkan eksternal oleh tuntutan lingkungan luar. Kebanyakan influencer pun memanfaatkan media sosial menjadi wadah agar diterima di lingkungan luar. Sisi konten yang dilihat yaitu tren yang tengah berkembang di masyarakat.

Penggunaan media sosial menjadi salah satu kegiatan yang menimbulkan kecanduan perilaku atau behavior addict. Masa kini, media sosial telah menjadi tempat strategi marketing yang gencar dijalankan. Juga influencer menjadi tokoh yang dipergunakan untuk melakukan marketing di media sosial.

Tak dapat dipungkiri, dampak yang terjadi dari fenomena influencer saat ini beragam. Pengguna media dapat mengambilnya baik maupun tidak. Contohnya saja, fenomena “madewithstories” dari Mada Riyanhadi. Melansir dari muda.kompas.id, ia merupakan seorang brand designer di visual project yang bergerak di bidang Wedding Organizer dan Production House. Ia menggunakan Instagram sebagai wadah untuk menyalurkan minatnya. Terdapat tiga elemen yang disalurkan yakni videografi, fotografi, dan teks.

Hal tersebut ternyata banyak diikuti oleh pengguna Instagram. Hasilnya membuat pengguna Instagram menjadi kreatif dan mengikuti tiga elemen yang Mada lakukan. Melalui Instagram, siapa saja tanpa harus memiliki latar belakang khusus, dapat memvisualisasikan produk mereka dengan memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia.

Selain dampak positif yang diterima, fenomena negatif pun ada, salah satunya yaitu keke challenge. Berawal dari penyanyi asal Kanada, Drake yang merilis lagu In My Feelings, hal ini membuatShiggy seorang komedian dengan akun @theshiggyshow yang memiliki 2,2juta pengikut di akun Instagram-nya mengunggah video tarian dengan latar lagu tersebut. Shiggy awalnya menari di pinggir jalan, namun para followers-nya meniru dengan menarikan challenge tersebut di samping mobil dengan keadaan mobil yang berjalan.

Fenomena keke challenge menimbulkan banyak korban. Bahkan, hal itu membuat Shiggy mengeluarkan statement-nya. “Itu sama sekali bukan sesuatu yang saya rekomendasikan untuk para penggemar Drake,” ungkapnya. Dari aksinya tersebut, Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Mohammad Iqbal mengimbau dalam akun Instagramnya @divisihumaspolri bahwa keke challenge itu dilarang. Lalu Polri akan menindak lanjuti orang yang melakukan challenge tersebut.

Dari dampak positif maupun negatif atas fenomena yang terjadi, sebagai pengikut harus bijak dalam memilah konten yang dikonsumsinya. Bukan hanya itu saja, seorang Influencer pun harus bisa memberikan pengaruh yang berdampak baik. Pasalnya, menurut Stephani, pengikut atau followers tersebut akan mengikuti tingkah laku atau sesuatu yang influencer lakukan.  

Influencer sebagai Alat Strategi Marketing

Meninjau influencer lebih dalam, menurut Forbes.com, pemasaran influencer dapat didefinisikan sebagai bentuk pemasaran. Dalam hal ini, fokusnya ditempatkan pada individu yang spesifik, daripada target pasar secara keseluruhan. Secara tradisional, ketika orang berpikir tentang Influencer marketing, mereka memikirkan popularitas selebriti di iklan TV atau seseorang yang terkenal berpose di papan reklame sepanjang jalan raya.

Mengenai hal tersebut, Konsultan marketing Telkom, Firly Firmansyah menjelaskan seorang produsen menggunakan influencer untuk mengkomunikasikan produk mereka. Ia mengaku para pemilik brand atau produk menggunakan jasa Selebgram, Youtuber, karena memiliki basis data followers. Sehingga target pasarnya menjadi jelas. “Seperti, jika ada 100 ribu followers, ambil saja 10 persen, sudah 10 ribu orang yang dipastikan melihat postingan produk tersebut. Nah, data itulah yang dijual oleh para influencer,” ujarnya saat diwawancarai di Ruang Tunggu Dosen (RTD) lantai dua usai mengajar, pada Senin (11/3/2019).

Strategi marketing pun bergeser dengan datangnya internet di era revolusi industri 4.0 ini. Hal tersebut menjadi tolok ukur utama dalam pandangan pemilik brand atau produk dalam strategi marketing dengan mengunakan influencer sebagai alat. Firly memprediksi, dalam 10 sampai 20 tahun yang akan datang, uang berbentuk fisik mulai jarang digunakan.

Infografis Presentasi Media Sosial Mahasiswa (Fahriza/SM)

Target Pemasar Belanja Iklan Digital untuk Generasi Z

Dikutip dari jurnal ekonomi dan kewirausahaan, faktor yang dapat mempengaruhi efektifitas iklan antara lain penggunaan endoser selebriti sebagai penyampai pesan iklan, seperti yang disampaikan Heebert Kelman (Belk 1999, Kusudyarsana 2004) yang menyatakan, endorser dapat digunakan dalam tiga kategori yaitu: kredibilitas, daya tarik, dan power.

Menurut data yang dirilis Gushcloud dalam Social Media Week 2017, belanja iklan digital di regional Asia Pasifik terus meningkat. Di Indonesia, belanja iklan digital pada tahun 2014 mencapai 0,53 miliar dollar AS dan diprediksi menjadi 3,99 miliar dollar AS pada 2018. Hal tersebut membuat pemilik brand atau produk melihat hal ini menjadi peluang besar dan jauh lebih mudah dibanding memasang di iklan reklame atau TV.

Target pemasaran dengan menggunakan influencer ini sendiri banyak menargetkan Generasi Z, terutama dikalangan pelajar atau mahasiswa. Dikutip dari WeAreSocial, Millenial telah lama menjadi fokus perhatian pemasar dan banyak penelitian telah dilakukan untuk mencoba dan lebih memahami konsumen yang membingungkan. Namun, ketika millennial memasuki tahap selanjutnya dalam hidupnya, ini menjadi waktu yang tepat bagi pemasar untuk mulai memperhatikan Generasi Z. Karena itu, mereka (baca: Generasi Z) akan menggunakan kekuatan dan pengaruh belanja mereka.

Di dunia, jika melihat rentang usia pengguna internet yaitu berkisar usia 25-34 tahun, dengan jumlah persentase 19% pria dan 13% wanita, yang kedua dari usia 18-24 tahun  dengan jumlah persentase 16% pria dan 11% wanita. Sedangkan di Indonesia sendiri di dominasi dari kalangan usia 25-34 tahun, dengan jumlah 19% pria dan 14% wanita, lalu dari kalangan usia 18-24 tahun, dengan jumlah 19% pria dan 15% wanita, kemudian dari kalangan usia 13-17 tahun dengan jumlah 7% pria dan 8% wanita.

Wellisna Merduani, Youtuber dengan 100 ribu subscribers (Tazkiya/SM)

Jangkauan Influencer kepada Mahasiswa

Jika melihat jaungkaunnya terhadap mahasiswa, peranan Influencer dalam marketing sedikit demi sedikit mengikis fungsi dan arti influencer. Khususnya di kalangan Generasi Z. Di mana 9 dari 10 Mahasiswa Unisba mengartikan bahwa Influencer sebagai selebgram, youtuber, blogger, yang sedang viral dan trendsetter bila dibandingkan hanya sekadar orang yang berpengaruh.

Dalam lingkup Universitas Islam Bandung (Unisba), ada banyak influencer yang juga masuk dalam dunia Influencer marketing. Memulainya dari hobi upload video menyanyi lalu membuat jumlah followers bertambah. Alhasil menarik minat pemilik produk untuk menggunakan mereka (influencer) sebagai alat strategi marketing.

Seperti, Wellisna Merduani, seorang youtuber yang memiliki 100 ribu subscribers bisa menghasilkan 20 juta rupiah dengan beberapa kali upload video dan endorsement dalam sebulan. Ia menjelaskan dalam melakukannya membuatnya senang dan mendapat relasi yang banyak. Bukan hanya persoalan senang saja, Wellisna sempat mengalami perubahan dalam hidupnya setelah menjadi influencer. Ia menjadi takut karena pernah ada bullying di dalam media sosial pribadinya. “Bukan seneng tapi malah jadi takut ya, cara ngehadepinnya aku sering nunduk biar enggak ada yang kenal,” ucap Mahasiswi Fakultas Kedokteran 2016 ini.

Instagram, Youtube dan Facebook adalah media sosial yang paling banyak diminati baik di Indonesia, mahasiswa secara umum, maupun mahasiswa di Unisba. Sedangkan dari segi konten yang diminati seperti musik, tutorial, hingga makanan.

Tidak mengherankan influencer paling banyak ada di tiga media sosial itu. Hal itu pun menambah minat banyak orang selain menjadi konsumen, juga berlomba menjadi Influencer Marketing melalui media sosial, bahkan sekarang ini telah dijadikan sebagai pekerjaan oleh Generasi Z.

Foto Ilustrasi

Akan tetapi, persepsi mengenai influencer sendiri harus diluruskan di zaman Generasi Z ini. Karena itu tidak hanya terbatas dalam hal media sosial dan pemasaran sebuah produk saja. Pertama, melihat definisinya saja influencer adalah orang yang berpengaruh banyak pada pengikutnya. Maka itu, seorang influencer maupun pengikutnya harus bisa memanfaatkan media dengan baik dan bijak. Kedua, jika dahulu influencer dianggap sebagai orang berpengaruh dalam kenegaraan, lain hal dengan saat ini, yang menjadikannya sebagai strategi marketing. Seperti yang telah dibahas di awal, Influencer bukanlah sebuah jabatan, namun pada hakikat nya Influencer merupakan hal yang penting bagi kehidupan kita saat ini.

Reporter : Verticallya Yuri S.E Pratiwi, Aryana Catur Rangga, Ervana Nurmelia Ramdhani Firmansyah, Mochamad Fahriza Wiratama Nauvanto, Tazkiya Fadhiilah Khoirunnisa

Redaktur : Iqbal Yusra Karim & Puspa Elissa