Dari Redaksi

UKMPIB dapat Hadang Radikalisme?

Tahun 1974, peristiwa kelam Malari mencuat ke permukaan — motifnya berasal dari gerakan demonstrasi mahasiswa yang tidak puas pada kebijakan Pemerintah Indonesia. Tindak-tanduk anarkis yang digencarkan saat itu menjadi rapor merah masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Kejadian itu sontak menimbulkan kekhawatiran pemerintah saat ini.

Bagaimana tidak, akarnya yaitu persoalan ideologi bangsa yang terus tergerus karena otoritas pemerintah. Gebrakan lewat perlawanan anarkis diartikan sebagai bentuk radikalisme yang berkembang di lingkup mahasiswa. Karena bahaya yang mengintai, lewat Peraturan Menteri Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi (Permenristekdikti) No. 55 Tahun 2018, Unit Kegiatan Mahasiswa Pengawal Ideologi Bangsa (UKMPIB) digalakkan demi menghadang ideologi yang keluar dari Pancasila.

Meski demikian, hadirnya UKMPIB ini pun menimbulkan jalan terjal. Adanya politik praktis, misalnya. Kampus menjadi tempat pertaruhan ideologi-ideologi sehingga adanya gerakan politik dari mahasiswa. Bila kehadirannya disalahgunakan, perpolitikan di kampus tidak akan berjalan sehat.

Di UKMPIB, nantinya semua lapisan organisasi ekstra akan saling bahu-membahu. Namun, bagaimana berjalannya UKMPIB ini, sementara ideologi dari tiap organisasi ekstra ini harus menjadi satu kesatuan — tentu bukan lah hal yang mudah.

Pancasila ini berisi nilai-nilai leluhur yang sudah seharusnya termaktub pada setiap insan. Sayangnya kerap kali dicederai oleh ketakutan yang digelontorkan kebijakan secara sepihak. Pancasila nyatanya hanya digunakan sebagai slogan, yang menunjukan kesetiaan semu terhadap pemerintah yang sedang berkuasa.

Saat ini penyematan “UKMPIB: Kekhawatiran Pemerintah dan Pemahaman Sempit Radikalisme” menjadi persoalan yang masih menjadi teka-teki tolok ukur keberhasilannya untuk hadang bentuk radikal di kampus. Jika dari sistemnya belum jelas, justru bias membahayakan bangsa sendiri. Bahkan bukan tidak mungkin juga kejadian 45 tahun silam akan kembali terulang.

Maka itu, teruntuk pembaca yang budiman, selamat menyelami lebih dalam pada laporan mendalam Suara Mahasiswa!

Pemimpin Redaksi

Fadhila Nur Rizky Islami